Keluar dari Dimensi Formalisme Fiqih ala Imam Al-Ghazali

0
105

BincangSyariah.Com – Fiqih menjadi salah satu cabang ilmu keIslaman yang mengatur kehidupan kita dalam beragama khususnya dalam hal ibadah. Namun fiqih kebanyakan dipandang sebagai kategori ilmu yang bersifat formalistik. Ada hal menarik dalam hal ini dimana teori Imam al-Ghazali memberikan sentuhan etik pada fiqih itu sendiri dalam karya nya Ihya Ulum Ad-Din.

Pada pertengahan abad ke 3 H perdebatan wacana antara fuqaha  dan syufiah hadir, bagi fuqaha, praktik keagamaan ahli tasawuf hanya mementingkan “kebatinan” dan melupakan ibadah ajaran-ajaran syariat Islam. Sebaliknya, para sufi melihat fiqih hanya berkutat pada persoalan-persoalan lahiriyah yang terkadang melupakan tujuan syari’at Islam itu sendiri.

Buku ini merupakan hasil dari pengamatan penulis sudah begitu lama. Dimana dia ingin mengejawantahkan pemikiran Al Ghozali melalui karya nya, Ihya Ulum Ad-Din. Melalui perdebatan diatas Al-Ghozali mengambil jalan tengah, bahwa tasawuf dan fiqih sama-sama penting bagi umat Islam. Yang mana bisa kita lihat bahwa saat ini fiqih yang dinilai terkesan formalistik, namun fiqih Imam Al Ghazali memberikan nuansa etik didalamnya.

Di bab pertama Abu Hapsin menjelaskan bahwa ilmu fiqih merupakan sebuah cabang ilmu keIslaman yang terbentuk pertama kali pada abad-abad awal lahirnya Islam. Dibandingkan dengan ilmu kalam ataupun etik (tasawuf). Serta faktor-faktor yang melatarbelakangi terbentuknya ilmu Fiqih dan Sufisme atau pun ilmu kalam itu sendiri. Agar pembaca tahu dasar terpenting mengapa fiqih bisa dilihat secara umum dalam segi formalistiknya, sehingga Al Ghazali memberikan teori pendekatan etik didalamnya yang dijelaskan di bab-bab selanjutnya.

Dalam memahami gagasan kontruksi fiqih etik Imam al ghazali, karya dosen  hukum Islam UIN Walisongo Semarang ini, menemukan gagasan bahwa fiqih etik Imam al-Ghazali dapat dilihat dua sisi. Yatu, manfaat fiqih itu sendiri, serta perumusan teori-teori fiqih.

Baca Juga :  Unduh Buku Bijak dalam Penggunaan Media Sosial

Secara umum Imam al-Ghazali memandang ilmu fiqih sebagai bagian dari syari’ah yang memiliki keterkaitan erat dengan jalan akhirat, hanya saja lahan pembahasannya terbatas pada perbuatan lahir manusia. Oleh karena itu, agar perbuatan lahir tersebut memiliki makna bagi kehidupan manusia, tidak hanya di dunia tapi di akhirat juga, maka segala perbuatan lahir tersebut harus didampingi oleh etika, (hlm. 40)

Hal tersebut merupakan pandangan Imam al-Ghazali dalam segi pemanfaatan fiqih. Beda halnya dengan pendekatan dalam sisi teori-teori fiqihnya. Meskipun al-Ghazali sendiri sebenarnya membukakan pintu menuju ke arah perumusan teori fiqih yang diwarnai dengan pendekatan etik.

Hal ini sebagaimana al-Ghazali mengkritik pendapat Imam Hanafi yang membolehkan membayar zakat kambing. Beliau tidak sepakat dengan Imam Hanafi yang membolehkan mengganti kambing dengan benda apa saja yang seharga dengan kambing. Alasannya karena pengertian yang tersurat dalam nash harus lebih didahulukan. Padahal dengan teori pencarian illat hukum yang dikemukakannya dapat diambil kesimpulan bahwa hukum “wajib” yang da pada zakat tersebut ‘illatnya agar harta kekayaan itu tidak terakumulasi hanya pada orang kaya, (hlm. 53)

Dalam segi pemanfaatanya al-Ghazali melihat sangat terlihat terkait tentang ibadah-ibadah yang bersifat wajib. Seperti halnya thaharah, shalat, zakat, puasa, dan haji. Meskipun terkadang beliau tidak konsisten, karena di saat merumuskan teori mengenai ta’lil an-nushush, ia sendiri telah membuka peluang untuk memberlakukan pendekatan etik pada sisi perumusan teori tersebut, (hlm. 128)

Karya ini menurut peresensi begitu lugas untuk mempelajari bagaimana pemikiran Imam al-Ghazali yang di introdusir dalam kitab ihya ulum ad-din. Membicarakan tentang fiqih dan etika itu sendiri. Serta cukup apik membawa sebuah cakrawala baru bahwa yang saat ini kita anggap bahwa fiqih dalam dimensi formalismenya. Namun penulis melalui penelitiannya membawa kita keluar dari dimensi terebut.

Baca Juga :  Potret Keromantisan Sosok Syaikhona Kholil Bangkalan: Menulis Kumpulan Wirid untuk Diamalkan Sang Istri

Sebenarnya kita tahu bahwa hukum itu bersifat formalistik. Dengan pendekatan kontruksi fiqih al-Ghazali maka beliau memberikan sentuhan etik di dalamnya. Wallahu a’lam Bis showab.

Judul               : Melampaui Formalisme Fiqih : Kontruksi Fiqih Etik Al-Ghazali

Penulis            : Abu Hapsin

Penerbit           : Elsa Press

Tahun Terbit     : Maret, 2017

Jumlah Hlm       : 144

ISBN                 : 978-602-6418-08-1

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here