Indahnya Kearifan Sikap Rasulullah

1
965

BincangSyariah.Com- Rasulullah adalah sosok yang diutus ke dunia ini untuk menjadi suri tauladan bagi manusia. Akhlaknya bak indahnya mutiara, kelembutan tutur katanya, hingga tindak tanduknya sungguh menyejukkan hati ketika membaca kisahnya.

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal” (QS. Yusuf [12]: 111)

Rasulullah mengajarkan kepada kita umatnya agar tidak berlaku kejam atau semena-mena terhadap sesama. Rasulullah telah memberi contoh bagaimana bergaul dengan berbagai macam sifat dan karakter manusia. Dalam buku alangkah bijaknya Nabi Saw dalam bergaul, disuguhkan berbagai kisah yang mengandung nasihat teramat dalam bagi kita umat beliau yang tak sempat bertemu langsung dengannya.

Suatu kisah, datanglah seorang pemuda kepada Nabi Saw. “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku berzina”, kata pemuda itu. Saat itu, orang-orang yang tengah berada di sekitar Rasulullah pun spontan membentaknya. Sementara Rasulullah menyuruh pemuda itu agar mendekat. Rasulullah menanyainya perihal zina, “Sukakah engkau jika hal ini terjadi pada ibumu?”, “Tidak demi Allah aku sebagai jaminanmu”, jawab pemuda itu. “Demikian pula setiap manusia tidak menyukai hal itu terjadi pada ibu-ibu mereka”, jelas rasulullah kepada pemuda itu.

Rasulullah kembali menanyai pemuda itu dengan mengganti objeknya, mulai dari ibu, anak perempuannya, saudara perempuannya, dan bibinya. Pemuda itu menjawab dengan jawaban yang sama setiap pertanyaan Rauslullah, “Tidak, demi Allah. Allah menjadikan aku jaminanmu”. Demikian Rasulullah menuturkan tentu seseorang juga tidak suka jika hal itu terjadi pada ibunya, anaknya, saudaranya, atau bibi mereka. Maka Rasulullah kemudian meletakkan tangannya kepada pemuda itu seraya berdoa, “Ya Allah, ampuni dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya”. Maka sejak itu, pemuda tersebut tidak lagi memandang sesuatu (serupa maksiat-maksiat terlebih berzina).

Baca Juga :  St. John Sang Pembaptis dan Tafsir Kata "As-Sabiin" dalam Alquran

Ini sebagai contoh sikap Rasulullah yang selalu menjadi mitra bicara dengan menunjukkan nilai-nilai cinta. Beliau tidak lantas memarahi pemuda itu, namun berusaha menyadarkannya melalui perumpamaan yang beliau suguhkan hingga pemuda itu sadar akan perbuatannya.

Menurut imam Syafi’i, bahwa sifat rendah hati itu akan terus mengalirkan cinta kasih sepanjang zaman. (hlm. 4)

Di antara sikap istimewa Rasulullah yang lainnya ada pada kisah Rasulullah dengan seorang pengemis. Di pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi. Ia tuna netra sedang seluruh tubuhnya sudah nampak renta. Setiap hari ia mengomel sendiri dan mengatakan kepada seluruh orang yang lewat bahwa Muhammad adalah pembohong. “Wahai saudaraku, jangan kau dekati Muhammad. Dia itu gila, tukang sihir, pembohong. Jika kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”. Begitulah ia mengumpat.

Rasulullah mengetahui perihal itu, namun justru beliau merasa iba kepadanya. Setiap pagi, Rasulullah membawakan makanan untuk pengemis buta itu lalu menyuapinya, walau beliau juga selalu mendapat wejangan agar jangan mendekati Muhammad.

Hari-hari berjalan seperti ini, hingga Rasulullah wafat. Setelah wafatnya beliau, tak ada lagi yang menyuapi pengemis itu. Kabar tentang kebiasaan Rasulullah ini terdengar oleh Abu Bakar melalui Aisyah putrinya. Abu Bakar kemudian melanjutkan kebiasaan Rasulullah.

Suatu pagi, Abu Bakar pergi ke pasar dan membawa makanan untuk pengemis itu. Namun, pengemis itu justru membentak “siapa kau?”. Abu Bakar menjawab bahwa ia adalah orang yang biasa menyuapinya. Pengemis itu tak percaya, karena orang yang biasa menyuapinya selalu menyuapi dengan terlebih dahulu mengunyahkannya sehingga tidak susah mulutnya yang renta itu mengunyah. Abu Bakar tidak sanggup menahan tangis mendengar perkataan pengemis itu, begitu lembutnya akhlak Rasulullah.

Baca Juga :  Ini Tiga Contoh Kedekatan Nabi Muhammad Dengan Non Muslim

“Aku memang bukan orang yang biasa menyuapimu. Dia telah tiada. Dia adalah Muhammad Rasulullah”, kata Abu Bakar sambil terisak.

Pengemis itu pun menangis, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, dan dia tidak pernah memarahiku sedikitpun. Dia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Dia begitu mulia”. Kemudian pengemis itu bersyahadat di hadapan Abu Bakar. (hlm. 36-37)

Rasulullah begitu murah perhatiannya, bahkan kepada orang yang telah memusuhinya sekalipun. Beliau tak pernah menaruh dendam dan pamrih sedikitpun. Inilah perlunya kita sadari bahwa Rasulullah diutus oleh Allah untuk menyucikan jiwa-jiwa kotor, hati yang kusam, dan mengajarkan akhlak karimah. (hlm. 183)

Judul Buku      : Alangkah Bijaknya Nabi Saw dalam Bergaul

Penulis            : Nur K

Penerbit           : Semesta Hikmah

Tahun Terbit   : Cet. 1, 2019

Halaman         : 200 hlm

ISBN               : 978-623-7076-09-4

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here