Hadis Ketujuh Kitab “Al-Mawaidh Al-Ushfuriyah”: Faedah Menghayati Makna La ilaha Illaallah

0
329

BincangSyariah.Com – Tiket masuk Islam adalah terletak pada rukun Islam yang pertama, yakni dua kalimat syahadat, pengakuan bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah dengan sebenar-benarnya selain Allah Swt. dan Nabi Muhammad saw. sebagai rasul-Nya. Dengan mengucapkan (meyakini) dua kalimat syahadat, maka ia sudah sah menjadi Muslim.

Pada hadis ketujuh ini, Imam Muhammad Bin Abu Bakar menjelaskan kembali hadis dan kisah seputar kalimat tauhid, La ilaha Illallahu. Ini menandakan betapa pentingnya umat Islam untuk mengesakan Allah Swt.

Abdussomad Bin Mughaffal pernah mendengar Wahab Bin Munabbih ra. berkata bahwa ia pernah membaca 30 baris akhir kitab Zabur. Firman Allah Swt. Kepada Nabi Daud As, “Wahai Daud, tahukah kamu orang yang Aku cintai untuk berumur panjang?”

Nabi Daud as. menjawab tidak. Lalu Allah Swt. berfirman lagi “Ia adalah orang yang ketika berzikir lailaha illaallahu, hatinya amat khusyuk sehingga kulitnya merinding dari saking tenggelamnya dalam menyelami maknanya. Aku tidak senang jika ia mati sebagaimana tidak senangnya orang tua atas kematian anaknya. Namun ia harus mati. Aku ingin memberikan kebahagian di alam lain, karena di dunia hanyalah penderitaan. Di dunia hanya dipenuhi musuh-musuh yang berbuat kerusakan layaknya aliran darah. Oleh karena itu, aku lekaskan para kekasih-Ku mendiami surga. Andai bukan karena itu, pasti Nabi Adam As. dan anaknya tidak akan mati sampai kiamat.”

Kalam di atas menunjukkan betapa besarnya rahasia yang terdapat dalam kalimat tauhid. Orang yang benar-benar menghayati maknanya maka ia tidak akan menemukan kegelisahan dalam hatinya. Bukan hanya sekadar berzikir di lisan saja, namun harus dibarengi dengan tafakkur dalam hati. Imam Nawawi dalam Al-Adzkar hal. 8 berkata

الذكر يكون بالقلب ويكون باللسان والافضل منه ما كان بالقلب واللسان جميعا فان اقتصر على احدهما فالقلب افضل

Baca Juga :  Hukum Mengiringi Jenazah Dengan Kalimat Tahlil

Dzikir itu terkadang dengan hati, atau dengan lisan. Yang paling utama adalah dengan keduanya. Jika harus memilih salah satunya, maka dengan hati saja.”

Berkenaan dengan kelebihan kalimat tauhid, Rasulullah saw. bersabda,

من قال لااله الا الله ومدها هدمت له اربعة الاف ذنب من الكبائر

Barangsiapa mengucapkan lailah illaallah dan memanjangkannya (menghayati maknanya), maka 4000 dosa besar akan diampuni.

Dalam kitab ini disebutkan bahwa hadis di atas diriwayatkan oleh Sayyidina Anas Bin Malik Ra., pembantu Rasulullah saw. Sungguh besar faidah dari kalimat tauhid. Dosa besar pun akan diampuni oleh Allah Swt. dari hamba-Nya yang istiqomah membaca lailaha illaallah dengan khusyuk dan ikhlas.

Dalam hadis ketujuh ini ada dua cerita yang dicantumkan oleh Imam Muhammad Bin Abu Bakar. Pertama tentang orang yang sakit, tapi dokter tidak bisa mendeteksi penyakitnya. Kedua tentang raja lalim yang memiliki keistimewaan luar biasa setelah masuk Islam.

Kisah Pertama

Imam Muhammad Bin Abu Bakar menukil dari Kitab Tafsir Syekh Imam Zahid  Ya’Kub Al-Kisai (semoga Allah merahmatinya) tentang Hazim Bin Walid Ra. Beliau sakit keras sehingga keluarganya mengundang dokter untuk memeriksa. Namun dokternya angkat tangan. Ia tidak menemukan gejala penyakit dalam diri beliau. Dokternya menyarankan agar langsung bertanya pada beliau. Karena  beliau pasti lebih tahu apa yang terjadi pada dirinya.

“Aku memang tidak sakit. Sakit ini disebabkan rasa takutku pada Allah Swt. Aku takut menghadap-Nya. Aku takut dihisab-Nya. Aku takut jika imanku hilang. Maka jika itu terjadi, aku akan menjadi orang yang berhak disiksa. Betapa beruntungnya orang yang mati membawa iman dan tempat kembalinya surga”, jawab beliau.

Artinya, jika kita benar-benar meresapi makna yang terkandung dalam kalimat tauhid, maka tidak ada lagi rasa cinta dunia. Yang dipikirkan hanya amal, sudahkah cukup untuk dibawa menghadap Allah Swt.? Orang yang sudah larut dalam mahabbah-Nya, ia tidak sadar bahwa dirinya sedang sakit. Kekhawatirannya adalah takut mati tidak membawa iman. Karena percuma saja amal baik sepanjang hidup,  jika di akhir hayat tak membawa iman.

Baca Juga :  Manfaat Baca ‘La Ilaha Illallah’ Setelah Shalat Shubuh

Semoga kalimat tauhid, lailaha illaallah menjadi akhir perkataan kita di dunia. Amin.

Kisah Kedua

Cerita kedua ini berasal dari Abu Bakar Bin Abdullah Al-Muzanni (semoga Allah merahmatinya). Cerita tentang raja kafir yang ingin dibakar oleh rakyatnya yang mayoritas Muslim.

Ada seorang raja yang memiliki keyakinan berbeda dengan rakyatnya. Ia sendiri termasuk penyembah berhala sedang rakyatnya Muslim. Ia diperangi oleh rakyatnya sampai kalah. Ia ditangkap dan akan dieksekusi.

Rakyatnya sepakat untuk membunuh sang raja dengan cara di masak dalam bejana. Setelah kepanasan, raja itu berteriak-teriak memanggil tuhannya. “Wahai Latta, Uzza, Hubal, tolonglah Aku. Aku sudah sekian tahun menyembahmu, sekarang tolonglah aku. Tiap hari aku mengelap kepalamu, aku mohon tolonglah.”

Sang raja semakin kepanasan, akhirnya ia putus asa untuk minta tolong pada tuhan-tuhannya. Lalu bersamaan dengan hidayah taufiq-Nya, ia sadar dan mau masuk Islam. Ia membaca dua kalimat syahadat di dalam bejana itu dengan benar-benar menyesali perbuatan syiriknya.

Tidak lama kemudian, Allah Swt. menurunkan hujan sehingga api yang membakarnya padam. Lalu bejana itu diterbangkan oleh Allah Swt. Raja itu terus menerus membaca kalimat tauhid.

Akhirnya bejana itu dijatuhkan pada tengah-tengah perkampungan orang musyrik. Keluarlah raja tersebut dari bejana setelah dibuka oleh mereka. Lalu raja tersebut menceritakan kejadian yang dialaminya sehingga mereka  masuk Islam semua.

Kesimpulan dari semua itu, jangankan orang yang sudah Islam sejak kecil, orang yang baru masuk Islam pun akan mendapatkan kelebihan tersendiri ketika benar-benar menghayati makna kalimat tauhid. Bukan hanya dosa yang dihapus oleh Allah Swt., tapi keistimewaan juga akan diberikan pada hamba-Nya yang lisan dan hatinya berzikir mengesakan Allah Swt. Wallahua’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here