Hadis Ketiga Kitab “Al-Mawaidh Al-‘Ushfuriyah”; Allah Malu Siksa Orang Tua Renta karena Kemuliannya

0
452

BincangSyariah.Com – Hadis yang ketiga ini datang dari Sayyidina Anas Bin Malik, salah satu pelayan Rasulullah Saw. Hadis yang ketiga ini menegaskan akan kemuliaan yang akan didapatkan oleh orang yang sudah beruban (sepuh). Hadisnya adalah sebagai berikut,

ان الله تعالى ينظر الى وجه الشيخ صباحا ومساء ويقول يا عبدي قد كبر سنك ورق جلدك ودق عظمك واقترب اجلك وحان قدومك الي فاستحي مني فانا استحيي من شيبتك  ان اعذبك في النار

Sesungguhnya Allah Swt. melihat (menjaga) raut wajah orang sepuh pada waktu pagi dan sore. Allah Swt. berfirman: Hai hamba-Ku, sungguh sudah tua umurmu, sudah keriput (tipis) kulitmu, sudah keropos tulang persendianmu, sudah dekat ajalmu, sudah sampai waktunya kau kembali pada-Ku. Malulah pada-Ku, maka niscaya Akupun malu untuk menyiksamu dengan api neraka.

Dalam hadis tersebut dijelaskan betapa perhatiannya Allah Swt. pada orang yang sudah tua renta. Bahkan, Allah Swt. malu untuk menyiksa orang yang sudah beruban, asal ia juga malu pada-Nya. Dalam artian, bila usia tuanya dihabiskan untuk bertobat sampai ajal menjemput, maka Allah Swt. akan merahmatinya. Allah Swt. malu untuk menyiksa orang yang sudah beruban.

Allah Swt. saja sudah segan (untuk menyiksa/menyakiti) orang yang sudah beruban, apalagi kita, tentunya harus lebih sopan dan segan pada orang sepuh atau orang yang lebih tua. Nabi Muhammad Saw. bersabda,

ليس منا من لم يرحم صغيرنا ويوقر كبيرنا

Bukan termasuk golongan kami, orang yang tidak mengasihi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua. (HR. Tirmidzi)

Akhir-akhir ini banyak anak muda yang kurang sopan pada orang yang lebih tua. Lewat di dekat mereka tanpa permisi, ugal-ugalan saat berpapasan dengan orang sepuh, ucapannya tidak begitu dihargai karena dianggap tidak modern, dan lain-lain. Bahkan terkadang ada yang berbicara kasar dan suara tinggi pada orang tua, lebih-lebih pada orang tuanya sendiri. Naudzubillah.

Sungguh tidak heran Allah Swt. memberikan keistimewaan pada orang yang sudah renta bila melihat fenomena akhir-akhir ini. Lihat saja orang yang rajin ke masjid, yang tua apa yang muda? Lihat saja orang yang gemar memberi sedekah amal masjid di pinggir jalan, yang muda apa yang tua? Siapa yang lebih perhatian pada kebersihan lingkungan? Siapa yang lebih banyak memikirkan keselamatan dan kesejahteraan bangsa?

Baca Juga :  Dialog Sahabat Ali dengan Salman Al-Farisi tentang 4 Kesedihan yang Dibolehkan

Syekh Muhammad Bin Abu Bakar mencantumkan dua kisah yang berkaitan dengan hadis ini. Pertama cerita Sayyidina Ali ra. dengan leleki tua dari golongan Nasrani. Kedua cerita tokoh ushuluddin kita, Imam Abu Manshur Al-Maturidi dan gurunya.

Kisah Pertama

Sayyidina Ali ra. adalah khulafaurrosyidin yang keempat. Beliau termasuk sahabat yang rajin berjemaah ke masjid. Beliau selalu datang paling awal dan menempati shaf terdepan. Namanya manusia, beliau juga pernah terlambat bangun subuh. Beliau langsung buru-buru ke masjid. Namun di tengah jalan langkah “kilat” beliau terhenti karena ada orang sepuh di depannya. Beliau tidak berani melewatinya sebagai penghormatan padanya. Padahal laki-laki tua tersebut bukan orang islam, melainkan ia seorang nashrani.

Namun, walaupun yang dihormat bukan orang islam, Allah Swt. memberikan dua karamah untuk Sayyidina Ali. ra. Pertama, Nabi Muhammad Saw. ditahan oleh malaikat dalam rukuknya sehingga tidak bisa bangun sampai Sayyidina Ali ra. datang (ikut berjemaah). Kedua, matahari juga ditahan oleh malaikat agar tidak terbit agar waktu subuh tetap luas untuk Sayyidina Ali ra.

Kisah Kedua

Guru dari Imam Al-Maturidy sudah berumur 80 tahun. Beliau merasa sudah dekat dengan kematian. Beliau menyuruh Imam Al-Maturidy untuk mencari budak yang seumuran dengan beliau untuk dimerdekakan.

Setelah seharian mencari budak yang dimaksud, akhirnya Imam Al-Maturidy pulang dengan tangan kosong. Beliau tidak menemukan budak yang berumur 80 tahun. Setelah mendengar penuturan Imam Al-Maturidy, sang guru tersebut langsung bersujud dan melalukan munajat. “Ya Allah, tidak ada lagi budak yang seumuran dengan hamba (80 tahun),  hamba juga berumur 80 tahun, jika manusia saja memerdekan budaknya, maka apalagi Engkau, tidakkah ingin memerdekakanku dari api neraka sedangkan Engkau Maha Pengampun.”

Sebab munajahnya ini, gurunya Imam Al-Maturidy dibebaskan dari api neraka oleh Allah Swt.

Baca Juga :  Al-Bidayah wa Al-Nihayah: Jejak Sejarah yang Ditulis Ibnu Katsir

Intinya, orang yang sepuh memiliki kesempatan lebih besar untuk meraih ridlo-Nya. Karena biasanya maksiat akan semakin berkurang, kebaikan terus diupayakan. Orang yang menaruh hormat pada yang lebih tua, ia akan mendapatkan karomah layaknya Sayyidina Ali. ra. Wallahualam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here