Gapai Kebahagiaan dengan Qalbun Syakirun (Hati yang Bersyukur)

0
1068

BincangSyariah.Com-Kegagalan hanyalah kesempatan untuk memulai lagi lebih pandai,” ujar Henry Ford.  Kegagalan adalah satu kosakata yang tak enak didengar, bahkan ketika harus dirasakan. Kegagalan memang tidak membahagiakan, justru menyakitkan. Namun, kegagalan tak boleh kita tukar dengan keterpurukan. Keterpurukan ini yang akan menjadikan kehidupan berubah buram dan segala-galanya menjadi kelam.

Hidup tak akan lepas dari suatu masalah, bahkan ia akan hadir pada setiap yang menghuni mayapada. Pejabat, konglomerat, rakyat, bahkan yang hidup melarat pun tak enyah dari tamu yang bernama “masalah”.

Masalah adalah bagian dari lika-liku perjalanan manusia. Di balik masalah pasti Allah telah menyiapkan jalan keluarnnya, hanya saja kita perlu berikhtiar mencarinya. Hidup itu ada Musa dan Fir’aun, ada kebaikan dan keburukan, ada malaikat ada setan. Maka, ada potensi fujur (kejelekan) versus takwa (kebaikan).

Keduanya selalu bertarung setiap hari, bergulat untuk saling mengalahkan. Ketika kita sedang dalam kondisi kekalutan, galau tak beraturan, maka jangan lantas kita dikalahkan oleh setan yang bisa jadi akan meniupkan nyanyian keputus asaan.

Resep Bahagia

“Tetaplah teguh keimanan, sembari terus berterimakasih kepada “ujian” karena dengannya anda bisa sumeleh dalam menjalani ujian. Ingat, justru dengan Anda bersabar pahala akan mengalir kepada Anda, dan jika sudah saatnya – tentu dengan usaha atau ikhtiar Anda – Allah pasti akan memberikan yang terbaik. Percayalah..” (hlm. 19)

“Anda jangan pernah pesimis dengan kegagalan, sebab ketika Anda terjangkit penyakit pesimisme maka akan ada lima penyakit yang bakal menjangkit psikis Anda” (hlm. 21)

Ahmad Zacky memberikan lima resep untuk keluar dari persoalan hidup. Resep ini diperuntukan bagi yang saat ini mungkin sedang diuji oleh Allah Swt. Baik ujian belum punya pekerjaan, jodoh yang tak kunjung datang, sakit, atau apa pun itu. Di antara ke lima resep itu adalah mempersiapkan diri (sebelum terjadi), bersikap ridha (bila sudah terjadi), jangan mempersulit diri, evaluasi diri, dan prinsip semua pasti akan berlalu.

Baca Juga :  Lelucon Abadi, Khazanah Islam Klasik

Tak perlu memandang kehidupan orang lain yang nampaknya terasa lebih indah hanya karena melihatnya dari luar saja. Sebenarnya apa yang kita jalani ini lebih beruntung. Orang yang tak bersyukur akan hancur dengan sifat kufur. Hati dan pikirannya dipenuhi ambisi duniawi sehingga berimplikasi pada penyakit dan berujung pada kematian.

Jangan Mengeluh, Yakinlah Harapan Pasti Ada

Mengutip pernyataan Hal Lindsey, “Manusia dapat hidup 40 hari tanpa makan, sekitar 3 hari tanpa air, sekitar 8 menit tanpa udara, tapi hanya 1 menit tanpa harapan”. This too shall pass, semua pasti akan berlalu harus ditanamkan dalam dada ketika sesak oleh banyak masalah. Selalu ada harapan ke depan, karena hidup tak hanya menoleh ke belakang. Ini berarti tak mungkin seseorang selamanya dalam kesengsaraan, kegalauan, dan kesedihan. Tak mungkin selamanya kita berpuasa, pasti suatu saat akan berhari raya. Bahkan Allah telah melarang hambanya untuk berputus asa, sebagaimana dalam QS. Yusuf: 87 Allah menyebut orang-orang yang putus asa sebagai orang yang putus harapan, orang yang sesat dan orang yang kafir.

“Bukankah masih enak anda? Anda tidak sakit. Anda masih sehat-sehat saja. Anda masih bisa makan dan minum. Anda masih bisa bercengkerama dengan orang-orang yang anda cintai. Lalu mengapa anda menangis sejadi-jadinya hingga seakan-akan dunia sudah mau kiamat? Untuk apa anda menampar-nampar muka sendiri seakan-akan andalah orang yang paling terpuruk? Maka, anda mesti bersyukur karena sesungguhnya anda masih lebih beruntung.”(hlm. 71)

Jika kita merasa sebagai orang yang galau, bahkan suatu ketika Rasulullah pun pernah merasa galau. Akibat kesedihan yang sudah mencapai ubun-ubun, akhirnya Allah menurunkan dua surat, yaitu QS. Al-Dhuha 1-3, dan QS. Al-Insyirah 5-6. Adapun hikmah dari kedua ayat itu adalah agar semakin sadar bahwa kesulitan dan kemudahan adalah dua situasi yang selalu akan ditemui dalam kehidupan. Penulis dalam bukunya menggambarkan melalui kisah Nabi Ayyub.

Baca Juga :  Langkah Awal Memahami Maqashid Syariah: Resume Buku "Dalil lil Mubtadi" Karya Jaser Audah

“Anda lihat sosok Nabi Ayub. Ia adalah Nabi yang kaya, yang selalu bahagia. Namun diuji oleh Allah dengan sakit yang tak terperikan. Sakit yang bikin orang lain tak tega melihatnya atau bahkan jijik dibuatnya. Lalu apakah selamaya Nabi Ayyub terus dalam kondisi sakit? Oh tidak. Allah menyembuhkannya seperti sedia kala. Hartanya melimpah seumpama air bah. Ia tak lagi menjadi orang yang terisolir, malah kembali bahagia. Ia kembali tersenyum dan melihat dunia dengan hati penuh bersyukur tiada terkira. Ini menjadi bukti bahwa tak selamanya Anda selalu dalam keterpurukan. (hlm. 157)

Membaca buku ini akan membawa kita kembali pada harapan, bahwa pasti suatu saat kita akan tersenyum dan bahagia. Air mata kesedihan akan habis oleh rasa senang yang tak terbilang. Penulis menghadirkan kisah-kisah nyata inspiratif yang akan menambah rasa syukur kita, yang akan mengembalikan kebahagiaan kita. buku ini menyajikan gambaran nyata sekaligus solusi menghadapi persoalan hidup. Bahasanya sangat gamblang dan lugas menjelaskan jalan meraih kebahagiaan.

Kebahagiaan lahir batin adalah tujuan hidup setiap insan. Buku ini menuntun kita menjadi pribadi yang optimis dan penuh syukur. Bahasanya ringan, mengalir, namun penuh kejernihan. Sampai kita sadar, tidak ada satu hal pun yang perlu kita khawatirkan. Tidak ada sekolah yang mengajarkan kebahagiaan. Tapi buku ini menyadarkan kita bahwa kebahagiaan harus diciptakan, tidak sekedar dinantikan. Buku ini menunjukkan kepada kita peta-peta menuju bahagia. (Khilma Anis, penulis novel JPN dan Hati Suhita). Mari mengarungi luasnya samudra motivasi menggapai bahagia. Selamat membaca.

Judul Buku      : Jangan Lupa Bahagia (Rahasia agar Hidup Anda Selalu Bahagia)

Penulis            : Ahmad Zacky el-Syafa

Penerbit           : Dialektika, Yogyakarta

Baca Juga :  Pelaku Penusukan Menko Polhukam Diduga Terpapar ISIS, Anda Perlu Baca Buku Meluruskan Pemahaman Hadis Kaum Jihadis

Tahun terbit    : April, 2019

Halaman         : x + 230 hlm, 16 x 24 cm

ISBN               : 978-602-5841-10-1

Peresensi         : Lutfi Nur Fadhilah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here