“Futuhat Al-Asrariyah” dan Polemik “Wahdatul Wujud” di Palembang 

0
683

BincangSyariah.Com – Kitab Futuhat Al-Asrariyah Fihaqiqat Insaniyah adalah karangan Syekh Yusuf bin Abdul Qadir (1860-1970 w.) seorang ulama besar keturunan Pakistan yang ahli di berbagai Ilmu. Saya memperoleh naskah kitab ini dari rumah keturunan Syekh Yusuf yang berada di Jalan D. Isa Rajawali Palembang. Kitab ini dicetak di percetakan Al-Musawa 16 Ilir Palembang.

Sampul depan tertulis :

“Ini kitab Futuhat Asrariyah Fi haqiqat Insaniyah artinya beberapa pembuka bangsa rahasia pada yang sebetul-betul bangsa manusia. Yang dihimpun oleh haqir yang daif Haji Muhammad Yusuf Al-Qadiry bin Abdul Qadir bin Hasan Empat Belas Ilir Palembang dengan sangat kerendahan haqir mengingatkan tiada disukai seseorang meniru mencetak akan ini kitab ini sebab ini kitab usaha hamba sendiri. Tamat cetakan pertama di Matba’ah al-Musawa 16 Ilir Palembang”.

Kitab ini memiliki 43 halaman yang berisi ajaran-ajaran Tasawuf tingkat tinggi seperti makrifat, musyahadah, dan lain sebagainya lalu ditutup dengan bacaan ratib. Sang pengarang sendiri mewanti-wanti agar si pembaca tidak terburu-buru dalam mempelajarinya supaya terhindar dari kesesatan.

Di halaman 34 tertulis:

“Maka bersangat hamba mengingatkan kepada saudara-saudara hamba yang membaca kitab hamba ini supaya janganlah qadar dibaca sahaja haraplah diperhatikan sungguh-sungguh maksudnya dari awal hingga akhir kitab ini mudah-mudahan dipeliharakan Allah ta’ala daripada sesat dan dapatlah petunjuk yang sebetulnya, Amin.”

Di akhir kolofon tertulis :

Telah setelah haqir himpunkan ini kitab di dalam Negeri Palembang ketika waktu dua pertiga yang akhir daripada malam arba’ yang ketujuh belas daripada bulan Zulhijjah pada hijrah Nabi Muhammad saw. sanah 1351.  Allah ta’ala jua yang tebih mengetahui akan betulnya dan kepadanya jua tempat kembali pulang yang mudah-mudahan dikaruniai akan Allah taufik hidayah akan hamba dan segala saudara hamba muslimin dan muslimat membuat segala kebajikan akan mendapatkan perjumpaan dan mudah-mudahan diampuni oleh Allah bagi hamba dan kedua orang tua hamba dan bagi mereka itu dan bagi orang-orang yang mendapat manfaat dengan kitab ini. Amin.

Akibat kecerobohan sang murid yang mengajarkan kitab ini di khalayak ramai sehingga menimbulkan kegaduhan, pada akhirnya para ulama Palembang mengeluarkan fatwa kitab agar kitab Futuhat Al-Asrariyah ini harus dibakar dan haram menyimpanya. Murid yang dimaksud di sini adalah Haji Anwar dari Desa Rantau Panjang Lematang Ilir, akibat kelalaiannya mengajarkan isi kitab Futuhat Al-Asrariyah sehingga membuat heboh masyarakat di sana.

Baca Juga :  Ketika Mendiang K.H. Ali Mustafa Yaqub Mengingat Kematian

Fatwa tentang kitab Futuhat Al-asrariyah ini dimuat dalam berita koran Pertja Selatan tahun 1939, di mana ulama-ulama NU cabang Palembang mengambil keputusan agar kitab tersebut ditarik dari peredaran bahkan lebih ekstrem lagi harus dibakar. Di antaranya  ulama tersebut adalah:

  1. H. Aidroes
  2. Kms. H.M. Taib (Mastje’)
  3. H. Oesman Mahdjoeb boerai
  4. H. Asjik
  5. Msg. H.A Roni
  6. Msg. H. A Rahman
  7. S. Aboe bakar Djamalilai
  8. S. Ali bin Abu bakar Al-kaff
  9. S. Ali bin Hamid bin Syekh Abubakar
  10. H. Muhammad bin Abdullah
  11. H. Daud roesdi
  12. H. Abu bakar Bestari (Goeroe Besar Nurul falah)
  13. H. Abdullah Madani
  14. H. Jan boerai
  15. H.Ali boerai
  16. S. Muhammad bin Salim Al-kaff

Dari sini bisa disimpulkan bahwa pada awal Abad ke-20 polemik wahdatul wujud di Palembang masih berlanjut.

Sekian. Salam damai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here