Filsafat Ar-Razi dalam Kitab al-Mabahits al-Masyriqiyyah; Ulasan mengenai Substansi dan Aksiden

0
806

BincangSyariah.Com – Tulisan ini masih membahas Fakhruddin ar-Razy dan kitab al-Mabahits al-Masyriqiyyah, terutama lebih banyak difokuskan kepada bagian kedua. Jika bagian awal kitab al-Mabahits al-Masyriqiyyah mengulas beberapa aspek tentang filsafat pertama atau ontology atau metafsika yang membahas ‘ada’ sejauh yang ada, ulasan di bagian kedua oleh ar-Razy ini difokuskan kepada pembahasan mengenai fisika Aristoteles sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Sina dalam kitab as-Syifa bagian at-Tabi’iyyat. Ulasan ini oleh ar-Razy tetap masih dalam kerangka “mengkondisikan ilmu kalam dalam ilmu filsafat”.

Menurut ar-Razy, seperti halnya Ibnu Sina, wujud bisa dibagi menjadi dua: wajib dan mumkin (mungkin saja ada). Wujud yang mungkin terdiri dari dua komponen; pertama, substansi atau al-jauhar dan kedua,  aksiden atau al-‘aradh. Substansi (al-jauhar dalam bahasa Arab dan Usia dalam bahasa Yunani) berarti ‘yang berdiri sendiri’. Menurut ar-Razy, suatu hal dianggap sebagai “substansi,” jika hal tersebut dapat menerima keterangan-keterangan, sedangkan hal itu sendiri tidak dapat ditambah sebagai keterangan pada suatu yang lain.

Sedangkan aksiden (al-‘aradh dalam bahasa Arab atau symbebekos dalam bahasa Yunani) ialah suatu hal yang tak berdiri sendiri. Artinya aksiden ialah sesuatu yang dapat dilekatkan pada sesuatu yang lain yang berdiri sendiri. Aksiden-aksiden hanya bisa dalam suatu substansi dan tidak pernah lepas dari padanya. Warna merah misalnya tidak dapat berdiri sendiri, dan itu artinya tidak pernah lepas dari substansi. Kita tidak pernah bertemu dengan ‘merah’.

Kita menemukan warna merah ketika dia sudah menempel pada substansi. Misalnya kita temukan ada topi merah, gambar merah dan lain sebagainya. Jadi aksiden “merah” hanya berfungsi sebagai keterangan yang dilekatkan pada suatu substansi. Misal yang lain, kata “manusia” dapat dipakai sebagai substansi. Akan tetapi kata “tua,” muda,” dan “duduk” semua itu merupakan aksiden-aksiden yang dikenakan kepada suatu substansi manusia. Itulah singkatnya ulasan ar-Razy tentang apa itu substansi dan aksiden. Kita akan lihat secara singkat ulasan tentang bagian-bagian dari dua hal ini.

Baca Juga :  Tertawa di dalam Ayat-Ayat Al-Qur'an

Bagian kedua kitab al-Mabahits al-Masyriqiyyah ini mengulas tentang serba-serbi substansi dan aksiden dan hal-hal yang berkaitan dengan fenomena-fenomena (ahkam azh-zhawahir). Sampai di sini, setelah membahas lima belas pasal tentang pendahuluan atau muqaddimah, ar-Razy langsung membahas beberapa aspek tentang aksiden (Sembilan kategori).

Ulasan dimulai dengan pembahasan mengenai kuantitas dan beberapa pokok persoalannya seperti “ukuran,” “yang terbatas dan yang tak terbatas,” “garis,” “fisik,” “ruang,” dan “waktu,”. Misalnya kalau bicara mengenai kain dan kuantitasnya, kita bisa saja mengatakan “sehelai kain tiga meter panjangnya”. Kain sebagai substansi dan tiga meter panjangnya sebagai aksiden kuantitas.

Kategori kuantitas ini diulas dalam dua puluh lima pasal. Setelah itu, ar-Razy mengulas tentang kualitas dan beberapa pokok persoalannya seperti kualitas yang dicerap oleh  indera peraba (sifat panas, dingin, kering, halus dan kasar), indera penglihatan (warna dan cahaya), indera pendengaran, indera penciuman, indera pencecap, daya dan kondisi tanpa daya dan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan beberapa aspek psikologis dan mental seperti kondisi subjek penahu (al-alim), objek yang diketahui (al-ma’lum) dan pengetahuan (al-ilm), kondisi sehat dan sakit. Selain itu, ulasan tentang aksiden kualitas difokuskan kepada bentuk bulat, bentuk segitiga dan seterusnya.

Setelah menjelaskan tentang kuantitas dan kualitas, ada ulasan mengenai tujuh kategori lainnya seperti ulasan mengenai hubungan atau relasi yang dimulai dengan pembahasan mengenai hakikat, sifat-sifat dan bagian-bagiannya seperti universalia, partikularitas dan seterusnya. Hubungan atau relasi yang menjadi aksiden misalnya dapat kita lihat pada contoh “x adalah anak dari y atau ya adalah bapak dari x.” Ulasan selenjutnya ialah tentang postur (al-wad’u), tempat (al-ayn), waktu (az-zaman), kepemilikan (al-jiddah), aksi (al-fi’il) dan afeksi (al-infi’al).

Baca Juga :  Usia Berapakah Sebaiknya Anak Laki-laki Dikhitan?

Ulasan tentang aksi maksudnya ialah ulasan tentang pengaruh kausa terhadap benda sedangkan afeksi maksudnya ialah yang terkenai pengaruh kausa tersebut. Ar-Razy mengulas tentang sebab akibat, macam-macam gerak dan kaitan gerak dengan waktu. Inilah pembahasan tentang Sembilan jenis aksiden. Sedangkan pembahasan tentang substansi meliputi ulasan tentang jisim dan serba-serbinya, aksi dan afeksi, entitas tak bernyawa, planet-planet (al-falak), pengaruh benda-benda langit, psikologi, tubuh manusia, hakikat akal dan serba-serbinya…

Secara lebih singkatnya, ar-Razy di sini sedang membahas fisika Aristoteles dengan berbagai macam bagian-bagiannya. Namun ulasan ar-Razy di sini tidak didasarkan kepada metode demonstratif atau metode ilmiah ala Aristoteles dan tidak pula menggunakan metode demonstrasi ala Ibnu Sina walaupun rujukannya ialah Ibnu Sina sendiri.

Ar-Razy dalam memaparkan bagian kedua ini tampaknya menggunakan metode demonstratif dan metode dialektika secara bersamaan. Secara lebih tegasnya, di bagian ini ar-Razy menggunakan metode ilmu kalam, metode debat dalam pemaparan argumentasi-argumentasinya.

Karena menggunakan metode ini pula, ar-Razy dalam pemaparan filsafat Aristoteles tampak menyisipkan persoalan-persoalan ilmu kalam. Jadi bayang-bayang ilmu kalam dengan argument dialektisnya ini masih membayangi tulisan ar-Razy tentang filsafat. Inilah yang tampak dalam bagian kedua kitab al-Mabahits al-Masriqiyyah. Pada tulisan selanjutnya, kita akan memfokuskan kajian pada bagian ketiga dari kitab ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here