Buku Pengantar Etimologi bahasa Arab Karya Syekh Yasin Padang

0
343

BincangSyariah.Com – Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan etimologi sebagai ‘cabang ilmu bahasa yang menyelidiki asal-usul kata serta perbuahan dalam bentuk dan makna’. Etimologi bahasa Arab berarti ‘ilmu yang menyelidiki mengenai sejarah atau asal-usul kata bahasa Arab, baik dari segi bentuk maupun makna’. Singkat kata, ilmu Etimologi ini menggunakan pendekatan linguistik historis atau diakronis dalam mengkaji sebuah kata.

Syekh Yasin al-Fadani atau Padang, ulama Indonesia yang berkiprah sebagai pengajar di Tanah Suci pernah menulis buku tentang etimologi bahasa Arab. Buku tersebut bernama Bulghatul Musytāq fī ‘Ilmil Isytiqāq yang berarti ‘Bekal pecinta ilmu Etimologi’. Buku ini berbicara mengenai ilmu Etimologi bahasa Arab secara ontologis. Dalam buku ini, Syekh Yasin membuat format tulisannya dengan berbentuk tanya-jawab.

Buku ini terdiri atas pendahuluan, delapan bab, dan penutup. Pada pendahuluan, Syekh Yasin memaparkan landasan agama mengenai ilmu Etimologi, sebagaimana sahabat Abdurrahman bin Auf yang mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Saya itu Maha Pengasih. Saya yang membentuk rahim. Saya juga yang membentuk nama dari rahim tersebut. Siapa yang menyambung silaturahim, maka Aku pun akan menyambungnya, dan yang memutusnya Aku pun akan kembali memutusnya.”

Dalam mukadimah juga, Syekh Yasin menyebutkan beberapa buku rujukannya. Pertama, kitab Nuzhatul Ahdaq karya Muhammad bin ‘Ali al-Syaukani. Kedua, al-‘Ilmul Khaffaq karya murid al-Syaukani, Muhammad Shadiq Hasan Khan. Ketiga, Sirrul Layal fil Qalb wal Ibdal karya Syekh Ahmad Faris al-Syidyaq.

Pembentukan kata, menurut Syekh Yasin, dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, proses pembentukan kata kerja berdasarkan nomina. Pembentukan ini disebut dengan al-isytiqāq al-ṣagīr. Sementara dalam istilah lain disebut dengan proses denominatif. Arthur Jeffery dalam buku The Foreign Vocabulary of The Qur’ān seringkali mencontohkan kasus denominatif pada bahasa Arab yang menyerap langsung dari bahasa asing. Setelah itu terbentuklah verba lampau (past tense). Contoh, kata sāḥir ‘penyihir’ dalam bahasa Arab berasal dari sāhiru ‘penyihir’ dalam bahasa Akkadia. Setelah terbentuk kata sāḥir, barulah dibentuk saḥara ‘menyihir’. Dari saḥara, terbentuklah kata siḥr, dan sebagainya.

Baca Juga :  Romantika Cinta Rasulullah dan Khadijah

Ini berbeda dengan pendapat ulama Basrah yang berpendapat bahwa pembentukan kata dalam bahasa Arab berasal dari nomina bahasa Arab itu sendiri, bukan verba. Misalnya, ḍaraba ‘memukul’ itu berasal dari ḍarb ‘pukulan’. Oleh karena itu, menurut mazhab Basrah, semua kelas kata dalam bahasa Arab berasal dari nomina.

Kedua, taqlīb ‘pembolak-balikan suku kata’ atau permutasi. Menurut Syekh Yasin al-Fadani, metode ini disebut dengan al-isytiqāq al-kabīr. Mislanya, kata jabaẓa yang berarti ‘menarik’ dibentuk dari nomina jaẓb yang berarti ‘penarikan’.

Ketiga, isytiqāq al-akbar ‘pembentukan berdasarkan kesamaan makna dan beberapa suku kata yang sama’. Mislanya, na‘aqa yang berarti ‘menggaok (suara burung gagak)’ berasal dari nomina nahq ‘suara keledai’.

Permasalahan asal-usul kata memang sesuatu yang mudah dilakukan, namun membutuhkan ketelitian dan ketekutanan yang begitu besar. Berbagai pendapat yang berbeda di antara pakar bahasa juga memengaruhi terhadap beragam pendapat mengenai asal kata tersebut. Ini belum lagi melihat kapan dan bagaimana kata tersebut dibentuk.  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here