el-Bukhari Institute Kembali Terbitkan Buku Berjudul “Ilmu Matan Hadis”

1
851

BincangSyariah.Com – Innamaa al-A’maalu bin an-niyyat, banyak orang yang mengenal ungkapan tersebut sebagai hadis. Sejatinya, dalam hadis ada dua hal yang menyusunnya, pertama adalah sanad yang berisi rantai siapa saja yang meriwayatkan hadis tersebut hingga Nabi Saw. Yang kedua adalah matan yang berisi konten yang diriwayatkan tersebut. Yang dicakup oleh matan hadis tidak hanya perkataan Nabi atau para sahabat, tapi juga segenap dialog Nabi Saw. dengan para sahabat yang bertanya, atau perbuatan beliau, atau sikap/ketetapan beliau terhadap masalah yang dihadapinya.

Disinilah peran ilmu matan hadis menjadi penting untuk diarusutamakan, agar kita dapat memahami sabda kanjeng Nabi Muhammad Saw. dengan baik. Buku yang ditulis oleh peneliti dan direktur penerbitan el-Bukhari (eBI Publishing), M. Khoirul Huda, MA. ini mencoba menjawab tantangan itu. Buku ini – seperti dijelaskan oleh beliau – pada awalnya lahir dari kebutuhan praktis menghadirkan buku modul untuk kegiatan Sekolah Hadis yang rutin dilaksanakan oleh el-Bukhari Institute. Sekolah Hadis yang terdiri atas tiga jenjang ini (kelas Mushtolah al-Hadits; Takhrij al-Hadits; Thuruq Fahm al-Hadits) memiliki jenjang kelas tertinggi yaitu kelas “Cara Memahami Hadis” (thuruq fahm al-hadits). Disinilah buku ini menjadi mendapatkan relevansinya.

Buku ini mencoba mengkategorikan metode pemahaman hadis dalam dua periode, pertama periode klasik dan kedua periode modern. Memang tidak ada batasan tahun yang tegas antara klasik dan modern tersebut. Untuk metode pemahaman hadis yang dikelompokkan ke dalam periode klasik adalah pertama, metode mukhtalaf al-hadits atau keragaman redaksi hadis. Keragaman ini kemudian melahirkan kontradiksi antara satu hadis dengan yang lain lalu diselesaikan pemaknaan masing-masing hadis-hadis, apakah yang satu lebih kuat dari yang lain, atau masing-masing memiliki konteksnya masing-masing, dan sebagainya. Kedua, adalah metode gharib al-hadits atau absurditas makna dalam sebuah hadis. Dalam sebuah hadis, ada kalanya ada kata-kata yang tidak dapat dipahami kecuali ada sumber yang menjelaskan hal itu. Dalam bahasa Arab, sumber pemaknaan kata khususnya dalam Al-Qur’an dan Hadis biasanya dikembalikan pada tiga sumber, pertama Al-Qur’an sendiri, kedua Hadis, dan ketiga syair Arab. Ketiga, adalah asbab wurud al-hadits atau latar yang melingkupi satu matan hadis.

Sementara, yang dikelompokkan ke dalam periode kontemporer adalah model pemahaman hadis berbasis posisi Nabi. Maksudnya adalah metode ini mencoba mengkonstruksi dalam konteks apa Nabi Saw. menyabdakan atau melakukan sesuatu sehingga dikelompokkan menjadi hadis Nabi. Metode ini pertama kali digulirkan oleh seorang ulama dari Mazhab Maliki, bernama Syihabuddin al-Qarrafi yang memilah posisi Nabi menjadi tiga bagian, Nabi sebagai pemutus satu hukum (al-Qadha’); Nabi sebagai pemberi fatwa (al-Mufti); dan Nabi sebagai pemimpin agama (al-Imām). Kemudian metode ini dikembangkan oleh Thahir bin ‘Asyur, ulama Tunisia di abad ke-20 yang memperinci pemilahannya menjadi dua belas posisi.

Nah, bagaimana kedua metode tersebut diterapkan dalam memahami hadis? Apa perbedaan antara metode klasik dengan metode kontemporer? Selengkapnya dapat dibaca dalam dibaca dalam buku ini. Saat ini sedang dibuka pre-order sampai tanggal 10 Oktober 2019.

Silahkan Pesan Disini.

1 KOMENTAR

  1. shalawat kpd nabi jangan disingkat kr itu adalah doa.. juga nama Allah tdk disingkat .. sepanjang ini artikel.. shalawat sj disingkat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here