Dicintai Allah, Kata Kunci Menghadapi Kematian dan Kiamat

0
336

BincangSyariah.Com – Sesuatu yang sesungguhnya sangat dekat dan familiar dengan kehidupan kita, bahkan semenjak lahir, yaitu kematian dan kiamat. Zenon, Filosof Yunani mengatakan “Kematian telah menampakkan dirinya sejak manusia lahir dan kematian itulah yang menggelisahkan hidup dan dienyahkan saat-saat bahagia”.

Nabi Saw bersabda, mati adalah suatu kepastian. Tak ada yang mampu mengakhirkannya dan ia tak dapat juga diajukan. Demikian pula datangnya hari kiamat adalah suatu kepastian. Suasana hari itu sangat mengerikan. Semua makhluk akan mati dan akan dibangkitkan dari alam kubur sesuai dengan amal perbuatan. Tak ada sesuatupun yang dapat menjadi penolong baginya kecuali perlindungan dari Yang Maha Memberi Pertolongan.

Saat manusia sudah berada dalam kubur, ia senantiasa menunggu datangnya hari kebangkitan. Kubur yang ia berada di dalamnya diimpikannya sebagai hamparan taman yang indah, miniatur surga. Bayang-bayang surgawi melambai-lambai penuh keeksotisan, sembari sang bidadari menari-nari di depan mata. Tidur yang begitu indah laksana pengantin baru di malam pertama. Malam pertama di liang lahat akan terasa sangat indah bagi seorang mukmin. Ia menjadi luas sejauh mata memandang dan baginya dibukakan pintu surga. Kubur akan menyambutnya seumpama sambutan seorang kekasih yang telah lama berpisah dengan sang pujaan hatinya. Sambutan yang penuh dengan kerinduan.

Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al-‘Uraify mengatakan bahwa seumpama kubur berkata, “Selamat datang! Engkaulah orang yang paling ku cintai di antara sekian orang yang berjalan di atasku. Akulah yang menjadi penguasamu dan engkau menjadi penghuniku. Akan ku alami apa yang ku perbuat untukmu”.

Dahsyatnya kedatangan hari kiamat diumpamakan bayi yang tengah menyusu pada ibunya, maka ia langsung berhenti menyusu, sedang sang ibu pun lupa ia tengah menyusui anaknya. Wanita-wanita hamil bahkan seketika melahirkan sebelum waktunya. Sebagaimana pula dahsyatnya kehadiran maut, bahkan di detik-detik wafatnya Nabi saw ketika roh sampai di pusat perut, beliau berkata “Wahai Jibril, alangkah pedihnya maut!”. Seketika, Jibril pun memalingkan mukanya, tak samapi hati memandang wajah kekasihnya yang sedang merasakan sakitnya maut.

Baca Juga :  Ini Empat Orang yang Bisa Memperlambat Kiamat

Kebangkitan digambarkan dalam kisah Nabi Ibrahim. “Ibrahim berkata “Ya Tuhanku, perlihatkan kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati… “Allah berfirman, ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. Lalu, letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”.

Inti ajaran Islam sebenarnya adalah cinta. Menurut al-Buthy, cinta adalah ketergantungan hati kepada sesuatu, sehingga menyebabkan kenyamanan di hati saat berada di dekatnya atau perasaan gelisah saat berada jauh darinya”.  Bahkan Rabiah al-Adawiyah “Cinta adalah ungkapan kerinduan dan gambaran perasaan yang terdalam. Siapa yang merasakannya, niscaya mengenalinya. Siapa yang mencoba mensifatinya pasti akan gagal.” Ketika kita telah mencintai-Nya, maka cinta itu akan sejati kepada-Nya sampai jasad berkalang tanah sekalipun, bahkan sampai kembali keharibaan-Nya. Yang kita perlukan adalah aktualisasi cinta, yaitu menyebar cinta ke seluruh makhluk-Nya yang mendiami mayapada. Kelak kita akan mendapat perlindungan dari-Nya saat semua dikumpulkan dalam padang mahsyar, di mana tak ada suatu perlindungan pun kecuali perlindungan-Nya.

Melihat latar belakang Faizah Ulfah adalah alumni pondok pesantren Langitan Widang Tuban, pembaca dapat merasakan hembusan nafas-nafas iman yang begitu kental dan meyakinkan akan kebenaran coretan yang ia tuangkan dalam adonan motivasi Islami. Pemikiran-pemikiran yang bernas banyak berkeliaran dalam jalan cerita yang ia sajikan. Tak hanya uraian kisah umat terdahulu, namun juga fenomena kekinian. Faizah Ulfah melalui bukunya, “Allah Sebaik-Baik Penolong” mengajak pembaca berdialog terkait hari kebangkitan. Sebagaimana Tuhan dalam firman-Nya selalu mengaitkan orang yang beriman kepada Allah dengan beriman kepada hari kiamat.

Manusia terlalu berani jika ia berbahagia dalam lubang kemaksiatan. Satu di antara maksiat dalam konteks kekinian adalah zina. Zina begitu menggejala dalam budaya. Ironisnya, kasus free sex tidak cukup sampai di sini. Remaja-remaja banyak yang hamil dan melakukan aborsi. Seks ibarat sebuah makanan. Ia tampak begitu menggoda selera. Setiap kali kata itu disebut, maka yang tampak di pelupuk mata hanyalah pesona keindahan. Di dalamnya menawarkan kidung surgawi yang bisa membuat orang terbang ke awang-awang.

Baca Juga :  Hadis Keenam Kitab "Al-Mawaizh Al-'Ushfuriyah": Kemulian Hari Jumat

Nasib pelaku zina di hari kiamat sangat pedih dan teramat mengerikan. Kemaluan pezina akan diperpanjang beberapa farsakh lalu dililit ular dan kalajengking yang menyengat kemaluan. Mereka diberi minum nanah dan air panas yang keluar dari kemaluan wanita pelacur sehingga usus mereka hancur, demikian diulang-ulang seterusnya. Mereka tidak akan diajak berbicara oleh Allah, tidak dilihat, tidak juga disucikan oleh-Nya.

Setelah meninggal dan jasad terkubur dalam tanah, tiba saatnya nanti akan dibangkitkan dan dikumpulkan di suatu tempat yang bernama padang mahsyar. Kita tak pernah tau berapa lama kita akan diistirahatkan di alam barzakh, namun hari kebangkitan adalah suatu kepastian. Inilah saat di mana semua makhluk Allah kembali dihidupkan setelah kematian. Bagaimana diri yang durjana tetap mengharap samudra ampunan dari Sang Maha Cinta. Bahwasanya manusia akan mengetam hasil tanaman berupa amalannya selama di dunia. Hal ini harus kita tumbuhkan dengan penuh keimanan dalam segenap jiwa dan raga.

Judul               : Allah Sebaik-Baik Penolong

Penulis            : Faizah Ulfah Choiri

Penerbit           : Checklist, Yogyakarta

Tahun Terbit   : Cetakan 1, Januari 2019

Halaman         : x + 362 halaman; 15 x 23 cm

ISBN               : 978-602-5479-99-1

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here