Cara Bijak Menyikapi Kehidupan

0
1187

BincangSyariah.Com- Buku ini adalah terjemahan dari al-Uslub al-Aqwa wa al-Althaf fi al-Taghyir karya Naif Abdurrahman al-Zuraiq. Dalam pengantarnya, Samir al-Basyiri mengatakan bahwa kehidupan adalah pergumulan yang penuh dengan problematika. Kehidupan sungguh penuh dengan kelokan. Kita berjalan dengannya setiap hari, namun kita tak bisa memilikinya, kecuali jika kita mampu mengendalikan ke mana arah hidup kita.

Dalam menjalani kehidupan ini, kita tentu memiliki impian-impian yang mencerahkan. Impian adalah sebuah tangga yang indah dalam suatu kehidupan. Kita akan terus bermimpi, berharap, dan berusaha untuk bisa mewujudkannya. Yang perlu kita miliki adalah sikap positif dalam semua keadaan yang sedang menghampiri kita.

Saat kehidupan terasa sulit, maka kehidupan kita akan diwarnai oleh pikiran, persepsi, bahkan impian yang kita bangun itu. Kehidupan yang kita jalani tergantung pada persepsi kita. Jika kita melihat kehidupan dengan persepsi hitam lagi gelap, maka kita akan melihat kehidupan menjadi hitam dan buruk. Namun, jika kita melihatnya dengan warna yang cerah, maka kehidupan ini akan menjadi secerah pandangan kita.

Dalam buku ini, penulis menggambarkan kehidupan layaknya seperti kopi yang hendak kita nikmati kelezatannya. Adapun jabatan, harta, status sosial pada dasarnya seperti cangkir yang hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan hidup. Kopi akan tetap menjadi kopi. Namun, jika kita hanya terfokus pada cangkir, kita akan menyia-nyiakan kesempatan menikmati lezatnya kopi.

Sebagaimana hidup, jika kita hanya disibukkan dengan melihat apa yang dimiliki oleh orang lain seperti melihat cangkir milik orang lain, maka indahnya cangkir akan mneyibukkan kita untuk menyia-nyiakan hidup. Sesungguhnya, jika hidup kita bahagia maka kita juga akan bahagia, tanpa memedulikan ia berada di dalam cangkir apa.

Rahasia kebahagiaan sesungguhnya diketahui oleh banyak orang, namun hanya dilakukan dan dipraktikkan sedikit orang. Yaitu, melihat dan menghitung apa yang kita miliki berupa nikmat yang telah diberikan kepada kita. Jangan justru melihat dan menghitung nikmat yang ada pada orang lain, sehingga kita mengabaikan kenikmatan-kenikmatan yang telah diberikan kepada kita yang seharusnya bisa kita rasakan.

Demikian pula dengan kesuksesan yang ingin kita gapai. Pribadi kita lah yang bisa untuk memengaruhi kesuksesan kita, bukan orang lain. Sesungguhnya kekuatan terbesar ada pada diri kita sendiri, dengan dibarengi usaha dan tawakkal kepada-Nya.

Suatu ketika, seorang anak perempuan bersama ibunya lewat di depan truk yang tertimbun di sebuah lembah gunung. Badan truk tertimbun di lembah gunung. Petugas tak mampu mengeluarkan truk itu. Anak perempuan tadi berkata pada ibunya bahwa ia tahu cara mengeluarkan truk itu dari lembah. Ibunya sama sekali tak memperdulikan perkataan anaknya.

Menurutnya, petugas saja tidak mampu apalagi ia yang hanya anak perempuan kecil. Anak itu lalu mendekat pada seorang petugas, dan berkata “wahai tuan, kurangilah angin roda truk itu, maka truk akan bisa keluar dari timbunan”. Ternyata benar, setelah angin rodanya dikurangi, truk itu bisa dikeluarkan. (hlm. 26)

Inilah yang biasanya kita dapatkan dari orang, berupa hinaan, ejekan yang menjatuhkan kita dari kesuksesan. Barulah pada saat kita telah mencapai kesuksesan, mereka percaya dan mengikuti pencapaian kita. Permasalahan ini juga memberi pengajaran pada kita bahwa pikirkanlah terlebih dahulu solusi yang paling sederhana, maka kita akan menjadi orang paling sukses.

Dikisahkan seorang pemuda mengajukan permohonan untuk diterima bekerja di sebuah perusahaan besar. Saat tes masuk, ia diberi tawaran oleh pewawancara, “Pilihlah, apakah kamu mau meminta saya memberi sepuluh pertanyaan mudah atau satu soal yang sulit?”. Pemuda itu berpikir sebentar lalu berkata, “satu pertanyaan yang sulit”. Pewawancara pun setuju, “Baik, saya setuju, anda yang memilih. Sekarang, jawablah pertanyaan saya, mana yang lebih dahulu muncul, malam atau siang?”

Pemuda itu merasa tegang, karena keberhasilan masuk perusahaan itu bergantung pada jawaban pertanyaan ini. Setelah berpikir sejenak, ia menjawab, “siang muncul terlebih dahulu wahai bapak”. Pewawancara pun menyahut, “Bagaimana bisa?”. Pemuda itu menjawab, “Maaf bapak, anda sudah berjanji untuk tidak memberi saya pertanyaan sulit yang lainnya”. Maka benarlah pilihan pemuda tersebut, dan ia langsung diterima di perusahaan itu. (hlm. 49)

Inilah yang hendak disampaikan, bahwa kita sepatutnya berusaha untuk selalu menjadikan sederhana semua masalah, bukan malah mempersulit atau bahkan membesar-besarkannya. Bahwa kepandaian ilmiah dan juga keterampilan teknis dapat dikalahkan dengan keyakinan, sebagaimana kerumitan dapat dikalahkan dengan pemahaman yang sederhana. Di dalam kesederhanaan ada kreativitas. Maka, berusahalah senantiasa berpikir untuk melakukan hal-hal yang sederhana namun memiliki hasil yang besar.

Penulis juga memberikan pesan, bahwa kemauan akan mengalahkan kemustahilan. Siapa pun yang membatasi tujuannya dan yakin dirinya memiliki kekuatan untuk mewujudkannya, maka ia akan mampu mewujudkan dengan keinginan dan kesabarannya. Di balik setiap keinginan selalu ada motivasi dan di balik motivasi selalu ada keinginan yang kuat. Diresensi oleh Lutfi Nur Fadhilah

Judul Buku      : Kisah-Kisah Sederhana yang Bisa Mengubah Hidup Anda

Penulis            : Naif Abdurrahman al-Zuraiq

Penerjemah     : Muh. Rifa’i

Penerbit           : Semesta Hikmah

Tahun Terbit     : 2019

Halaman         : 197 hlm

ISBN               : 978-b623-7076-25-4

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here