Al-Bidayah wa Al-Nihayah: Jejak Sejarah yang Ditulis Ibnu Katsir

0
263

BincangSyariah.Com – Ibnu Katsir lebih dikenal sebagai seorang mufassir yang ahli hadis yang terkenal melalui maha karyanya yang berjudul Tafsir Ibnu Katsir yang terdiri dari 10 jilid. Tidak banyak yang tahu bahwa selain ahli dalam bidang tafsir dan hadis, Ibnu Katsir juga seorang sejarawan yang terkenal yang hidup pada tahun 1301 M hingga 1372 M.

Ulama yang bernama lengkap Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir al-Quraisyi al-Bashri al-Dimasyqi al-Syafi’i tersebut telah menelurkan banyak karya dan salah satu yang paling fenomenal dalam bidang sejarah adalah yang berjudul Al-Bidayah wa Al-Nihayah yang berjumlah 7 jilid cetakan Daar al-Hadits.

Tidak hanya mengulas awal mula peradaban manusia, Nabi-nabi dan umat terdahulu, Ibnu Katsir juga mencoba mengumpulkan mengenai informasi tentang awal mula penciptaan Arsy, bumi, langit malaikat, jin dan iblis pada bab pertama kitabnya.

Sejarah tentang Arsy hingga masa fatrah beliau bicarakan pada awal pembahasan dalam kitabnya. Ia juga menyinggung tentang bagaimana awal mula penciptaan Nabi Adam, hingga cerita-cerita Nabi dan rasul hingga sejarah mengena Bani Israil, dan keadaan umat-umat yang kepadanya para rasul diutus.

Masa Jahiliyah hingga sampai masa Kenabian Rasulullah Saw. Dengan sangat apik, Ibnu Katsir menggambarkan bagaimana keadaan sosial dan peradaban bangsa arab semasa Rasulllah belum diutus menjadi Nabi.

Pada bab-bab selanjutnya beliau merunutkan sejarah berdasarkan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun hijriyah. Seperti peristiwa penting dan renteran sejarah yang terjadi dari tahun pertama hijriyah hingga tahun 767 Hijriyah.

Pada bab terakhir beliau menutupnya dengan pembahasan hal-hal yang terjadi di masa depan, seperti ciri-ciri hari kiamat, dan kejadian-kejadian besar menjelang terjadinya hari akhir.

Ibnu Katsir mengawali setiap pembahasan dalam kitabnya dengan menyebutkan data yang ada dalam Alquran lalu Hadis kemudian keterangan dari orang-orang yang terlibat dalam sejarah tersebut.

Baca Juga :  Langkah Awal Memahami Maqashid Syariah: Resume Buku "Dalil lil Mubtadi" Karya Jaser Audah

Dalam setiap tema yang dibahas, Ibnu Katsir berusaha mengumpulkan informasi dan data-data yang berserakan untuk melengkapi puzzle sejarah yang berserakan.  Terkadang beliau juga menyertakan informasi dari kitab-kitab terdahulu atau israiliyyat selama cerita tersebut tidak bertentangan dengan informasi yang terekam dalam Alquran dan Hadis.

Dalam mukadimah yang Ibnu Katsir catatkan di awal kitab, ia mengatakan

ولسنا نذكر من الإسرائيليات إلا ما أذن الشارع في نقله، مما لا يخالف كتاب الله وسنة رسوله – صلى الله عليه وسلم – وهو القسم الذي لا يصدق ولا يكذب مما فيه بسط لمختصر عندنا ، أو تسمية لمبهم ورد به شرعنا مما لا فائدة في تعيينه لنا فنذكره على سبيل التحلي به لا على سبيل الاحتياج إليه والاعتماد عليه . وإنما الاعتماد والاستناد على كتاب الله وسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Kita tidak menyebutkan cerita israiliyat kecuali jika syariat mengizinkan untuk menukilnya, yaitu yang tidak bertentangan dengan kitabullah dan sunah rasulullah Saw, karena itulah yang benar dengan tidak membenarkan dan mendustakan dari apa yang ada dalam cerita Israiliyyat karena keterbatasan yang ada pada kami, atau guna untuk memberikan penyebutan bagi sesuatu yang tidak kami ketahui yang muncul dalam syariat Islam yang sebenarnya tidak ada manfaat pula meski kami kami sebutkan. Namun kami menyebutkannya untuk mencirikannya bukan sebagai keperluan atau sandaran. Karena yang pantas dijadikan  sandaran hanyalah kitabullah dan sunnah Rasulullah Saw.”

Kitab al-Bidayah wa al-Nihayah ini adalah ensiklopidia sejarah yang paling lengkap pada zamannya, atau bahkan sampai saat ini. Membacanya anda seakan diajak safari sejarah, tidak hanya menjelajahi tahun demi tahun perjuangan Rasulullah Saw dalam berdakwah, tapi juga penciptaan alam semesta, peradaban manusia serta bangsa-bangsa besar yang dulu telah punah sehingga kita hanya bisa menelusuri jejak-jejaknya di muka bumi. Seperti gunung tempat kaum Ad membangun peradabannya, dan lain sebagainya. Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here