BincangSyariah.Com – Tulisan ini bukan bertujuan untuk membela atau tidak membela siapa pun, apalagi dibayar hanya untuk membela seorang Ahok. Pasalnya, tidak jarang seorang akademisi mengkritik yang berbeda pendapat dengan tuduhan macam-macam. Penjilat, media bayaran, dan lain sebagainya. Semoga kita dijauhkan dari sifat berburuk sangka dan membenci pada sesama, apa pun agama, etnis, dan latar belakangnya. Jika sesama umat beragama tidak saling curiga, tentu negara ini akan menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Hargai perbedaan dan pendapat orang lain yang seagama maupun berbeda agama.

Apa yang kita pahami mengenai terjemahan kata auliya dalam surah al-Maidah ayat 51 ini adalah teman setia, sebagaimana penerjemahan yang dilakukan Kementerian Agama. Ulama klasik sekelas al-Thabari menafsirkan kata auliya itu sebagai anshar dan hulafa, bukan khulafa (pemimpin). Saya menerjemahkan penafsiran anshar dan hulafa itu dengan teman koalisi atau tempat suaka. Artinya, Muslim tidak boleh menjadikan non-Muslim sebagai teman koalisi dan tempat suaka dalam konteks peperangan, karena tidak jarang agama dijadikan sebagai alat politik dalam berseteru.

Menurut al-Thabari, ayat ini menceritakan mengenai perbuatan orang munafik yang bersahabat dekat dengan non-Muslim untuk tujuan tertentu yang merugikan umat Islam. Oleh karena itu, hal ini tidak pas diterapkan sebagaimana ditafsirkan al-Thabari dalam konteks Indonesia, karena negara kita dibangun bukan atas dasar perbedaan agama, namun Bhineka Tunggal Ika. Dari sini kita pahami bahwa siapa pun pengkhianat negara, apa pun agamanya, yang ingin mengeruk harta kekayaan bangsa Indonesia ini, itulah musuh kita bersama.

Kita rakyat awam terkadang mudah sekali diprovokasi mengenai isu-isu agama dan dibenturkan dengan umat lain yang juga dengan isu agama. Padahal musuh kita bersama itu bukan umat agama dan etnis lain, tapi musuh bangsa yang nyata itu adalah orang-orang rakus yang ingin menguasai negeri ini untuk kepentingan pribadi, keluarga, dan orang-orang dekatnya. Kita sudah muak dengan perbuatan-perbuatan kotor para pejabat nakal yang hanya mengumbar janji-janji manis saat mencalonkan diri sebagai pemimpin, namun lupa pada rakyat saat dia sudah menjabat.

Terlepas dari itu, publik luas sudah mengetahui mengenai ketegangan masyarakat Muslim Indonesia mengenai dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Thahaja Purnama, alias Ahok terkait surah al-Maidah ayat 51. Dugaan penistaan agama dalam kasus ini juga sedang diatasi oleh pemerintahm dalam hal ini pihak kepolisian. Terlepas dari konteks apakah terdapat unsur penistaan agama atau tidak, marilah kita percayakan permasalahan ini pada pemerintah, hindari perpecahan sesama anak bangsa.

Selain itu, hal ini juga menjadi pelajaran penting bagi pemerintah, para aparat penegak hukum mengenai keadilan yang tidak hanya tajam ke rakyat kecil, namun tidak untuk para pemodal yang ingin mengeruk harta kekayaan bangsa ini untuk kepentingan para kroninya saja. Apalagi momen demo yang diselenggarakan pada (04/11) lalu dijadikan alat untuk melengserkan Jokowi.

Bukankah ini sudah berbau politik kekuasaan? Hati-hati, jangan-jangan niat saudara-saudara Muslim yang ikut berdemo rancu antara membela agama dan kepentingan politik?! Semua itu tentu yang mengetahui adalah Anda semua yang ikut berdemonstrasi. Itu hak setiap orang yang dibenarkan dalam agama dan negara. Sebagai anak bangsa yang tidak tahu apa-apa, saya berharap negeri ini tetap bersatu dan tidak mudah diadu domba hanya untuk kepentingan sesaat. Wallahu a’lam.

Komentar

komentar